Selasa, 27 Maret 2012

PERUBAHAN IKLIM DAN DAMPAKNYA DALAM KEHIDUPAN

PENDAHULUAN

Saat ini perubahan iklim merupakan salah satu hal yang menjadi sorotan utama dunia, yakni karena banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh terjadinya perubahan iklim tersebut dalam kehidupan kita. Dampak dari perubahan iklim ini sangat dirasakan oleh manusia sebagai penduduk dunia, baik terhadap lingkungan, ekonomi, kesehatan, maupun dalam kelestarian flora dan fauna. Dampak-dampak ini dapat terjadi sebagai akibat dari fluktuasi iklim yang ekstrim, seperti panas ekstrim dan kondisi kering dari musim kemarau pada tahun 2003 yang menyebabkan kebakaran dibeberapa wilayah Eropa dan Amerika Utara barat.

Dampak yang sebagian besar merugikan kita ini diakibatkan oleh aktifitas kita sendiri, yaitu karena kurangnya kesadaran dalam melakukan banyak aktifitas yang berdampak buruk bagi lingkungan. Misalnya, pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar, penebangan hutan secara liar serta pembukaan lahan dengan cara membakar yang berdampak pada terjadinya masalah saat ini yaitu pemanasan global atau global warming.

Perubahan iklim sebagai implikasi pemanasan global, juga menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim diberbagai belahan dunia. Di Indonesia, dampak cuaca ekstrim ini dapat dilihat dari tidak sesuainya perubahan musim diberbagai daerah. Sebagian daerah mengalami kekeringan, sedangkan daerah lainnya mengalami banjir. Hal ini membuat banyak dampak negatif terutama bagi para petani yang tidak bisa lagi menentukan musim panen sehingga membuat banyak terjadi gagal panen. Hal ini juga berdampak pada sektor kesehatan dan lingkungan.

PEMBAHASAN

Perubahan Iklim dan Penyebabnya

Perubahan iklim yang terjadi saat ini disebabkan oleh efek rumah kaca. Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

Persentase energi yang masuk ke Bumi:

· 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer

· 25% diserap awan

· 45% diserap permukaan bumi

· 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi

Gambar 1. Energi yang masuk ke bumi (Sumber: Michel, et. al., 2003)

Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi.

Gambar 2. Efek Rumah Kaca (Sumber: Michel, et. al., 2003)

Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Namun apabila kondisi efek rumah telah melampaui batas normal yang ada, maka hal ini yang akan berdampak besar terjadinya pemanasan global yang pada akhirnya menyebabkan perubahan iklim. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Pengaruh Perubahan Iklim

A. Perubahan Iklim dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan

Perubahan iklim dapat mengubah kualitas air, udara, makanan; ekologi vektor; ekosistem, pertanian, industri, dan perumahan. Semua aspek tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan kualitas hidup manusia. Perubahan iklim telah menciptakan suatu rangkainan kausalitas kompleks yang berujung pada dampak kesehatan. Misalnya saja, kualitas dan suplai makanan. Variabel ini sangat dipengaruhi oleh iklim. Bagaimana keteraturan iklim telah membuat petani tahu kapan waktu yang tepat untuk menebarkan benih, memupuk, dan memanen lahannya. Saat iklim berubah, cuaca juga berubah. Kekeringan dan banjir dapat datang sewaktu-waktu. Mungkin petani masih bisa memanfaatkan air tanah. Akan tetapi, seperti telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, aktivitas antropogenik manusia telah merubah wajah vegetasi bumi. Kualitas dan kuantitas air tanah dan permukaan kini juga berada dalam ancaman. Perubahan cuaca, kelembaban, suhu udara, arah dan kekuatan angin juga mempengaruhi perilaku hama.

Perubahan iklim dapat mengakibatkan munculnya berbagai gangguan kesehatan. Serangan heat stroke, kematian akibat tersambar petir, busung lapar akibat gagal panen yang disebabkan perubahan pola hujan, dan gangguan kesehatan lainnya membutuhkan penanganan istimewa, tidak bisa disamakan dengan kejadian penyakit biasa. Oleh karena itu, hal tersebut membutuhkan rancangan sistem kesehatan yang disesuaikan dengan perkiraan dampak perubahan iklim sehingga fasilitas pelayanan kesehatan yang ada mampu menampung, menangani, dan mengendalikan kasus-kasus tersebut. Ketika perubahan iklim datang, maka kesehatan manusia akan berada dalam ketidakpastian waktu. Kasus bisa terjadi sewaktu-waktu dengan kuantitas dan kualitas dampak yang juga tidak dapat dipastikan. Sistem pelayanan kesehatan akan menemui berbagai macam tantangan yang rumit seperti naiknya biaya pelayanan kesehatan, komunitas yang mengalami penuaan dini, dan berbagai tantangan lainnya sehingga strategi pencegahan yang efektif sangat dibutuhkan (Menne, 2008).

Banjir mengakibatkan kesehatan manusia terancam berbagai penyakit menular dan penyakit mental. Leptospirosis, diare, gangguan saluran pernapasan, scabies, dan penyakit lainnya mengancam warga pasca banjir. Secara teoritis, banjir adalah hasil dari interaksi dari curah hujan, runoff permukaan, evaporasi, angin, tinggi permukaan air laut, dan topografi lokal. Bencana banjir dan badai mulai muncul dalam 2 dekade ini. Pada tahun 2003, 130 juta jiwa menjadi korban banjir bandang di China. Sedangkan pada tahun 1999, 30.000 orang mati karena badai yang diikuti banjir dan tanah longsor di Venezuela. Di Indonesia, banjir air pasang terjadi di Jakarta Utara dan Tangerang.

Perubahan Iklim juga menyebabkan kemunculan dini musim semi serbuk sari di belahan bumi utara. Sangat beralasan jika menyimpulkan bahwa penyakit alergen disebabkan oleh serbuk sari seperti alergi rhinitis seiring ditemuinya kejadian tersebut bersamaan dengan perubahan musim tersebut (Confalonieri, et. Al., 2007: 402).

b. Perubahan Iklim terhadap Kondisi Sosial

Salah satu contoh akibat perubahan iklim adalah banjir. Banjir yang menenggelamkan tempat tinggal manusia membuat manusia mengungsi. Dalam kondisi darurat seperti itu, akan timbul kepanikan. Selain itu, pada kondisi darurat manusia tidak lagi memikirkan orang lain. Yang menjadi prioritas utamanya adalah bagaimana caranya agar dirinya, keluarganya, dan hartanya dapat diselamatkan. Tidak jarang manusia menginjak hak orang lain asal kebutuhan keluarganya dapat dipenuhi, walaupun hak orang yang diinjak tersebut adalah hak tetangganya. Banjir juga menyebabkan jatuhnya korban meninggal yang akan membuat perasaan keluarga dan orang terdekatnya termasuk tetangga akan menjadi sangat sedih, hal ini membuat keadaan sosial akan berubah karena telah menghilangnya salah satu pelaku sosial di lingkungan tersebut.

c. Perubahan Iklim dan Dampak Lingkungannya

Perubahan Iklim terjadi karena perubahan keseimbangan lingkungan. Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (uap air, CO2, NOx, CH4, dan O3) di atmosfer akibat aktifitas pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia menyebabkan terbentuknya semacam selimut tak tampak mata yang mengurung gelombang panas sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Efeknya adalah permukaan bumi semakin memanas dan pada akhirnya memicu perubahan iklim.

Efek yang paling terlihat dari kondisi ini adalah perubahan cuaca. Cuaca adalah kondisi atmosfer yang kompleks dan memiliki perilaku berubah yang kontinyu, biasanya terikat oleh skala waktu, dari menit hingga minggu. Variabel-variabel yang berada dalam ruang lingkup cuaca di antaranya adalah suhu, daya presipitasi, tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan, dan arah angin. Sedangkan iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer, dan berhubungan dengan karakteristik topografi dan luas permukaan air, dalam suatu region wilayah tertentu, dalam jangka waktu tertentu yang biasanya terikat dalam durasi bertahun-tahun (Michael, et.al., 2003).

Aktivitas antropogenik lain, diantaranya adalah penggunaan lahan dan berubahnya vegetasi alami juga ikut berkontribusi menyebabkan perubahan iklim. Perubahan vegetasi menyebabkan variasi karakteristik permukaan bumi seperti albedo (kemampuan memantulkan) dan roughness (ketinggian vegetasi) mempengaruhi keseimbangan energi permukaan bumi lewat gangguan evapotranspirasi. Selain itu, perubahan vegetasi juga dapat mempengaruhi suhu, laju presipitasi, dan curah hujan di suatu regional. Bencana alam yang dapat terjadi karena perubahan vegetasi di antaranya adalah banjir, munculnya heatstroke akibat gelombang panas yang tidak diserap karena hilangnya vegetasi alami, tsunami, kekeringan, dll.

IPCC menyimpulkan bahwa beberapa studi mengindikasikan meningkatnya tekanan panas, kekeringan, dan banjir secara negatif akan mempengaruhi lahan pertanian melebihi dampak perubahan iklim. Hal tersebut juga diperkirakan akan membentuk kemungkinan terjadinya kejutan yang dampaknya lebih luas, muncul lebih awal, lebih daripada yang diperkirakan. Variabilitas iklim dan perubahan juga mengubah risiko terjadinya kebakaran, out break patogen dan hama, yang berefek negatif pada ketersedian suplai makanan dan kehutanan.

Gambar 3. Peningkatan pengaruh perubahan iklim dari global warming (Sumber : IPCC (2001d[1] and 2007d)[3])

Dampak lainnya adalah pengaruh perubahan iklim terhadap perilaku vektor penyebab penyakit. Vector borne disease (VBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh gigitan infeksi spesies-spesies arthropoda, misalnya nyamuk, lalat, kutu, kepinding, dan sebagainya. Di timur laut Amerika, ditemukan bukti respons genetik (mikro evolusioner) dari spesies nyamuk Wyeomia smithii untuk meningkatkan jumlah mereka dan dalam dua dekade ini mereka muncul lebih awal dimusim semi. Walaupun spesies itu bukan merupakan vektor yang dapat menyebarkan penyakit ke manusia, tetapi spesies ini memiliki hubungan yang dekat dengan spesies vektor arbovirus lainnya yang dimungkinkan mengalami perubahan/evolusi genetis juga. Selain itu perubahan distribusi geografis vektor sandfly dilaporkan terjadi di Eropa selatan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang spesifik meneliti kausa perubahan distribusi tersebut (Confalonieri, et.al., 2007: 403).

Virus berbasis vektor lainnya yang paling menjadi pusat perhatian seluruh dunia adalah dengue. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada hubungan antara kondisi spasial, temporal, atau pola spasiotemporal terhadap dengue dan iklim. Telah diketahui bahwa curah hujan yang tinggi serta suhu yang hangat dapat meningkatkan transmisi virus ini. Akan tetapi, diketahui juga bahwa kasus dapat terjadi dalam jumlah yang sama di musim kemarau asal terdapat cukup tempat penyimpanan air yang feasibel menjadi breeding site nyamuk (Confalonieri, et.al., 2007: 403).

Kurangnya suplai makanan dan kekeringan diketahui berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian akibat kesakitan diare di Banglasdesh. Di Australia diketahui juga meningkatnya risiko bunuh diri oleh petani selama musim kemarau (Confalonieri, et.al., 2007: 399). Diet yang bagus dan suplai makanan yang baik adalah pusat dari kesuksesan promosi kesehatan. Keterbatasan suplai makanan dapat mengakibatkan malnutrisi dan berbagai penyakit akibat defisiensi gizi (Wilkinson, et.al, ed. 2003: 26).

Perubahan iklim memiliki hubungan dengan perubahan curah hujan, ketersediaan air permukaan, dan kualitas air yang dapat berpengaruh pada water related disease. Water related disease dapat diklasifikasikan dengan mengetahui jalur pajanannya sehingga dapat dibedakan menjadi water borne disease (ingesti) dan water washed disease (karena kurangnya higienitas).

Ada 4 pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi hubungan antara manifes kesehatan dan pajanan oleh perubahan curah hujan, ketersediaan, dan kualitas air:

1. Hubungan antara ketersediaan air, akses air bersih di perumahan, dan beban kesehatan akibat penyakit diare

2. Peran curah hujan ekstrim (lebatnya curah hujan dan kekeringan) dalam memfasilitasi kejadian luar biasa water borne disease lewat suplai air lewat jaringan pipa ataupun air permukaan.

3. Efek suhu dan runoff dengan kontaminasi bahan kimia dan mikrobiologi pada garis pantai, tempat rekreasi, dan air permukaan

4. Efek langsung suhu pada insidens diare.

d. Perubahan Iklim dan Pengaruhnya terhadap Kondisi Sosial Ekonomis.

Perubahan iklim cenderung mengakibatkan bencana. Hal tersebut secara klinis akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Selain itu, bencana-bencana tersebut juga dapat melumpuhkan kegiatan perekonomian manusia. Bencana yang merusak bangunan fisik, melumpuhkan sumber daya manusia lewat penyakit, serta dapat mengancam iklim investasi. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi sosial dan ekonomi manusia (Stern, 2008).

Peningkatan temperatur udara di permukaan bumi antara 2 - 5 derajat Celcius dalam kurun waktu 100 tahun dengan kondisi emisi gas rumah kaca seperti saat ini akan mengakibatkan perubahan iklim sebagaimana kajian Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dalam sidang Second World Climate Programme (SWCP) Oktober 1990 di Genewa.

Dampak yang merugikan akibat perubahan iklim antara lain perubahan pada lingkungan fisik maupun biota sehingga menimbulkan kerusakan pada komposisi, ketahanan, serta produktivitas ekosistem alami. Komposisi ekosistem alami dapat rusak akibat perubahan iklim manakala dampak perubahan iklim tersebut tidak dapat ditolerir oleh komponen pendukung ekosistem. Demikian pula ketahanan komponen ekosistem alami akan mengalami penurunan maupun kerusakan tergantung pada seberapa besar akibat perubahan iklim berpengaruh pada ketahanannya.

Produktivitas akan terganggu bila kompisisi serta ketahanan ekosistem terkena dampak perubahan iklim. Berikut ini akan dicoba dideskripsikan sebagian dampak perubahan iklim terhadap lingkungan khususnya terhadap ekosistem alami.

Dampak terhadap keanekaragaman hayati

Laju perubahan iklim yang cepat melalui pemanasan global merupakan masalah yang cukup serius dihadapi oleh mahluk hidup. Dalam menghadapi hal itu diperlukan adaptasi, antara lain melalui migrasi yang merupakan mekanisme homeostatis mahluk hidup.

Sebagai ilustrasi, bila akibat perubahan iklim temperatur naik 3 serajat Celcius, mahluk hidup berusaha bermigrasi secara vertikal ke daerah pegunungan dengan ketinggian 500 m lebih tinggi daripada habitat semula atau bermigrasi secara horisontal sejauh 250 km mendekati kutub untuk mendapatkan habitat dengan suhu yang sesuai. Hewan yang mobilitasnya relatif lebih tinggi daripada tumbuhan menghadapi berbagai hambatan diantaranya penyempitan habitat (misalnya, bila migrasi terjadi di daerah pegunungan). Sehingga menurut teori hubungan antara luas dan jumlah jenis haruslah ada jenis yang punah.

Migrasi horisontal terhalang oleh berbagai faktor antara lain terdapatnya daerah pemukiman, pertanian, bentangan gunung yang tinggi, dan hamparan lautan. Sebagai contoh hewan dan tumbuhan yang dilindungi di taman nasional Ujung Kulon tidak dapat bermigrasi ke selatan karena terdapat Samudra Hindia. Juga bentangan Pegunungan Jaya Wijaya di irian Jaya merupakan hambatan bagi migrasi hewan setempat. Meski hewan dan tumbuhan dapat bermigrasi untuk beradaptasi terhadap kenaikan temperatur akibat perubahan iklim, kecepatan migrasi jenis berbeda-beda sehingga di habitat yang baru terjadi perubahan komunitas hewan dan tumbuhan. Pada umumnya kecepatan migrasi jenis tumbuhan lebih rendah daripada kecepatan migrasi hewan. Dalam kasus ini bila tumbuhan tersebut merupakan makanan utama jenis hewan yang bermigrasi maka hewan tersebut di habitat yang baru kurang/tidak mendapat makanan utama. Akibatnya akan berpengaruh terhadap kehidupannya dan bila hewan tersebut tidak mampu beradaptasi dengan jenis makanan y ang tersedia di habitatnya yang baru, maka populasinya pun akan terhambat bahkan dapat menyebabkan kepunahan.

Dampak terhadap lapisan salju, es glasier, permafrost, dan sirkulasi hidrologi

Salju es dan permafrost (dataran beku bersuhu 00C) merupakan sumberdaya air yang meliputi luas 41 juta km persegi. Lapisan salju pada daerah tertentu y ang menutupi tanah selama 9 bulan dalam setahun dapat mengurangi panas yang diserap oleh tanah. Akibat perubahan iklim, lapisan salju melebur dan tanah akan lebih banyak menyerap panas matahari.

Umpan balik dari peleburan lapisan salju tersebut akan meningkatkan pemanasan global. Demikian pula halnya terhadap hamparan es dan glasier, yang akhirnya akan berakibat terhadap kenaikkan permukaan air laut. Dalam waktu 250 tahun hamparan es di Greenland berkurang volumenya sebesar 3 % dan permukaan laut naik setinggi 0,2 m. Reaksi glasier atas pemanasan akibat perubahan iklim sangat tergantung pada tempat dan perubahan presipitasinya. Glasier yang berada di kepulauan bekas wilayah Uni Sovyet diprediksi akan hilang dalam beberapa dasawarsa akibat presipitasinya hanya dapat mengkompensasi kehilangan 10 - 15 % (Gille, 2002).

Peningkatan temperatur sebesar 3 derajat Celcius dapat membelah wilayah Pegunungan Alpen di Austria yang tertutup glasier menjelang tahun 2050. Dataran beku bersuhu nol derajat Celcius merupakan tanah yang tetap berada pada temperatur nol derajat Celcius atau dibawahnya, yang terdiri atas es dengan berbagai bentuk mulai dari partikel kecil di pori-pori tanah hingga wilayah es yang luas dengan ketebalan beberapa meter.

Pemanasan yang cepat mempengaruhi lapisan teratas dataran beku bersuhu nol derajat Celcius setebal 5 m yang pada wilayah tertentu (misalnya Siberia Barat dan Lingkaran Atlantik Utara) akan menghilang dalam beberapa dasawarsa. Namun pencairan dataran beku bersuhu nol derajat Celcius tersebut secara penuh akan memerlukan waktu berabad-abad (Meehl, 2007).

Kenaikkan temperatur 2 derajat Celcius akan mengakibatkan gerakan mundur dataran beku bersuhu nol derajat Celcius di Kanada sejauh 700 km ke utara. Survei yang dilakukan pemerintah Cina membuktikan 40 - 50 % wilay ah dataran beku bersuhu nol derajat Celcius akan berkurang. Siklus hidrologi terpengaruh oleh kenaikkan temperatur akibat perubahan iklim karena laju penguapan air dari tanah dan kelembaban tanah juga terkena dampak kenaikkan temperatur.

Sumber daya air di daerah tandus dan semi tandus sangat peka terhadap perubahan kecil temperatur dan curah hujan. Suatu hasil penelitian di AS menunjukkan kenaikkan temperatur 1 - 2 derajat Celcius dan berkurangnya presipitasi 10 % akan menurunkan ketersediaan air separuh dari semula di daerah tandus dan semi tandus. Kenaikkan temperatur juga akan mempengaruhi pasok air yang berasal dari pencairan salju. Pada musim dingin air disimpan dalam bentuk salju dan secara bertahap dilepas pada saat meleleh di musim semi dan panas. Pada bagian bumi y ang lebih panas, akan lebih banyak hujan dan sedikit salju. Sungai-sungai di daerah ini menjadi sangat kering di musim panas dan meluap pada waktu musim hujan.

Dampak terhadap ekosistem laut dan pantai

Pemanasan global akibat perubahan iklim selain menaikkan permukaan air laut akibat pemuaian volume air dan pencairan salju, juga menaikkan suhu air laut. Hal itu akan berpengaruh terhadap interaksi laut dan atmosfer, yang selanjutnya akan mempengaruhi perubahan iklim. Perbedaan temperatur antara udara diatas daratan dan lautan menimbulkan angin sepanjang garis pantai yang kuat. Sedangkan perbedaan temperatur air laut dan di dasar laut akan menimbulkan arus keatas (upwilling). Bila hal ini terjadi dengan intensitas yang tinggi diduga akan menambah frekuensi peristiwa siklon tropis yang disertai perluasan wilayahnya. Suhu permukaan air laut yang tinggi kemungkinan meningkatkan terjadinya El Nino yang mengakibatkan cuaca buruk dan mengganggu sirkulasi laut (Shaffer, et.al., 2009).

Ekosistem pantai sangat tergantung pada laut. Bila permukaan air laut naik akibat prubahan iklim, maka sedimen yang terjebak dalam hutan mangrove akan terhanyut oleh arus pasang surut. Bila itu terjadi maka berbagai biota laut y ang hidup dalam ekosistem pantai tersebut akan terganggu populasinya. Terumbu karang sangat peka terhadap perubahan temperatur dan tingkat sedimentasi. Bila temperatur kurang dari 18 derajat Celcius terumbu karang akan mati sehingga akan berpengaruh terhadap kehidupan biota laut. Juga tingkat sedimentasi y ang tinggi akan memperkeruh air laut sehingga sinar matahari tidak dapat menembus sampai pada dasar laut habitat terumbu karang. Bila itu terjadi maka fotosintesis akan terganggu sehingga pertumbuhan terumbu karang juga akan terganggu.

Demikianlah, dampak perubahan iklim terhadap ekosistem alami bila diurutkan lebih jauh akan sangat berpengaruh pada rantai makanan dan akhirnya akan mempengaruhi aktivitas mahluk hidup secara keseluruhan.

PENUTUP

KESIMPULAN

v Perubahan iklim yang terjadi saat ini disebabkan oleh efek rumah kaca.Efek rumah kaca merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.

v Perubahan iklim yang terjadi memberikan dampak dalam beberapa bidang atau sektor seperti kesehatan, kondisi sosial, lingkungan, kondisi sosial ekonomi, keanekaragaman hayati, dampak terhadap lapisan salju, es glasier, permafrost, dan sirkulasi hidrologi, serta dampak pada ekosistem laut dan pantai.

DAFTAR PUSTAKA

BAMS (Bulletin of the American Meteorological Society ) a b State of the Climate in 2009, as appearing in the July 2010 issue (Vol. 91) of the Bulletin of the American Meteorological Society (BAMS). Supplemental and Summary Materials: Report at a Glance: Highlights. Website of the US National Oceanic and Atmospheric Administration: National Climatic Data Center. July 2010. http://www.ncdc.noaa.gov/bams-state-of-the-climate/2009.php. Retrieved 2011-10-26.

Confalonieri et al.. "8.3.2 Future vulnerability to climate change". In Parry 2007. Chapter 8: Human health. http://www.ipcc.ch /publications_ and_data/ ar4/ wg2/en/ch8s8-3-2.html. Retrieved 2011-09-23.

Gille, Sarah T (February 15, 2002). "Warming of the Southern Ocean Since the 1950s". Science 295 (5558): 1275–7. Bibcode 2002Sci...295.1275G. doi:10.1126/science.1065863. PMID 11847337. http://www.sciencemag. org/cgi/content/full/295/5558/1275.

a b IPCC 2007d. "3. Projected climate change and its impacts". Summary for Policymakers. CH: IPCC. http://www.ipcc.ch/ publications_ and_ data/ ar4/syr/en/spms3.html.

a b IPCC 2007d. "1. Observed changes in climate and their effects". Summary for Policymakers. CH: IPCC. http://www.ipcc.ch/publications_ and_data/ ar4/ syr/en/spms1.html. Retrieved 2011-10-17.

Meehl, G.A., et al.. "Section on sea level in: Executive summary". In Solomon 2007. Chapter 10: Global Climate Projections. http://www.ipcc.ch/ publications_and_data/ar4/ wg1/ en/ch10s10-es-8-sea-level.html. Retrieved 2011-10-17.

Michele. 2003.“Climate Change and Human Health: Risks and Responses”. Jenewa, WHO, hlm. 18.

Shaffer, G. .; Olsen, S. M.; Pedersen, J. O. P. (2009). "Long-term ocean oxygen depletion in response to carbon dioxide emissions from fossil fuels". Nature Geoscience 2 (2): 105–109. Bibcode 2009NatGe...2..105S. doi:10. 1038/ ngeo420. edit

Stern, N (May 2008). "The Economics of Climate Change" (PDF). American Economic Review: Papers & Proceedings (UK: LSE) 98 (2): 6. doi:10.1257/aer.98.2.1. http://darp.lse.ac.uk/papersdb/Stern_(AER08).pdf. Retrieved 2011-10-04.

1 komentar: